|
| [Details] |
| Report Time | 04:55 |
| Condition | --- |
| Wind Chill | 10 °C |
| Dew Point | 12 °C |
| Wind Direction | 340NNW |
| Variable Wind | ---/--- |
| Wind Speed | 2.1 m/s |
| Wind Gust | --- |
| Visibility | 1.8 km |
| Pressure | 1003 hPa |
| Humidity | 100.0 % |
| Humidity Index | 14.2 °C |
| Heat Index | --- |
| Precipitation | --- |
| Snow | --- |

Tulisan Walentina ini sudah dimuat di Kolom Kita Detik.com
Lamunan Natal dan Pisang
Penulis: Walentina Waluyanti – Holland
Menjelang Natal ini, kesibukan begitu menumpuk. Kunjungan ke keluarga besar. Atau juga menerima beberapa kunjungan. Dan kegiatan khas akhir tahun yang begitu padat. Berhubung Natal juga menjelang pergantian tahun, kesibukan yang tak kalah repot yaitu membuang barang tak terpakai, menyusun perencanaan renovasi rumah, serta membenahi dan menghias rumah.

Saya berjalan ke dapur. Memeriksa beberapa sudut. Begitu sibuknya membenahi segala macam, sampai lupa kalau masih ada beberapa buah-buahan yang lupa termakan. Di antaranya pisang yang sudah menghitam, tanda sudah nyaris membusuk. Buang saja? Ah, saya jadi teringat ide bikin banana cake. Lagi pula bukankah banana cake justru butuh pisang busuk? Soalnya kalau pakai pisang yang masih segar, malah bikin banana cake itu berpeluang jadi bantet hasilnya.
Walaupun saya tidak suka makan cake, tapi tidak boleh egois kan? Tidak ada salahnya menyenangkan keluarga dengan cemilan yang mereka sukai.
Sambil sibuk memulai membuat banana cake, pikiran saya melompat ke sana kemari. Tentang suasana natal di Belanda tahun ini. Sejak minggu lalu ramalan cuaca memprediksi bahwa kemungkinan di Belanda berpeluang ada white christmas sesudah 28 tahun penduduk Belanda tidak pernah lagi mengalaminya. Menurut berita, Natal tahun ini adalah Natal bersalju pertama di Belanda sejak tahun 1981. Sebelumnya memang kadang ada salju di bulan Desember, tapi bukan di saat Natal.

Dari radio terdengar sayup-sayup lagu-lagu Natal. Di luar, anak-anak main lempar-lemparan salju. Meja dan kursi-kursi di kebun nampak berlapis salju kira-kira setebal 15 cm. Saya tersenyum menatap boneka salju yang terpajang di depan rumah. Natal di Belanda lebih terkesan sebagai sebuah pesta budaya. Ini negara sekuler. Orang tidak mau ambil pusing tentang kapan sebetulnya tanggal kelahiran Yesus. Orang juga tidak perduli dengan segala macam renungan dan pesan di balik Natal. Natal itu pesta. Maka orang lebih tertarik memeriahkan pesta ini. Menghiasi rumah dengan segala macam simbol natal.
Para keluarga saling mengirim ucapan dan kado natal. Pohon natal atau kerstboom kata orang Belanda, dihiasi lampu kerlap-kerlip plus segala macam aksesori. Rumah-rumah, jalan-jalan, di mana-mana kelihatan cantik dengan pernak-pernik hiasan natal. Ya, di Belanda memang Natal lebih terkesan sebagai suatu perayaan kultural daripada peristiwa religi. Bahkan beberapa keluarga non-Kristiani pun ikut menghiasi rumah dan memajang pohon natal sekedar ikut memeriahkan hari pesta itu. Sebagaimana ucapan khas Natal di Belanda, bukan cuma fijne kerstdagen (selamat hari natal), tapi juga fijne feestdagen (selamat berpesta).

Saya jadi teringat Natal di Indonesia. Kalau Natal begini, di mana-mana bergema pesan Natal. Intinya pesan kasih dan perdamaian. Memang banyak keluarga juga menghias rumah dengan simbol-simbol Natal, berbaju-baru dan makan enak. Namanya saja hari spesial. Tapi lebih penting dari itu, di Indonesia Natal dirayakan sebagai sebuah hari raya religi. Hari untuk memperingati datangnya Sang Juru Selamat. Umat Kristiani merasa afdol jika bisa ke gereja pada tanggal 24 Desember tengah malam. Dan tepat jam 00.00 malam, dentangan bel gereja turut mengiringi doa dan puji syukur yang dipanjatkan umat.

Saya mulai sibuk menyiapkan bahan untuk membuat banana cake. Tangan saya melumatkan pisang-pisang yang nyaris membusuk itu. Pisang itu harus dilumatkan terlebih dahulu sebelum dicampur dengan adonan tepung. Ah, ternyata sesuatu yang kelihatannya tak berarti dan nyaris terbuang, tidak perlu selalu berkonotasi negatif. Pisang yang tampak seperti sampah ini masih bisa juga bermanfaat. Persis dengan simbol-simbol yang selalu dihubungkan orang dengan peristiwa natal. Yaitu Yusuf, Maryam, gembala-gembala domba dan kandang natal yang kotor, busuk dan bau.
Yusuf hanya seorang tukang kayu biasa. Maryam, tunangannya hamil. Padahal Yusuf merasa belum pernah berbuat macam-macam terhadap perawan suci Maryam. Hampir saja diceraikannya secara diam-diam kekasihnya itu. Tapi keimanan Yusuf akhirnya membatalkan niatnya itu. Kehamilan itu bisa membuat Maryam dirajam dengan batu kalau sampai orang tahu bahwa Maryam hamil bukan karena benih Yusuf, tunangannya.
Simbol yang lain, tentang gembala domba. Pekerjaan sebagai gembala domba juga bukanlah pekerjaan yang dianggap prestisius. Tapi toh gembala-gembala itu ternyata menjadi cukup bernilai bagi malaikat pembawa berita bahagia. Karena kepada para gembala domba itu, malaikat Jibril menyampaikan pesan penting. Yaitu seorang bayi pembawa keselamatan, akan lahir ke dunia.
Dan kandang domba yang busuk dan bau? Ya, Maria dan Yusuf ditolak di semua penginapan yang mereka singgahi. Kondisi Maryam yang hamil tua tidak membuat orang terketuk hatinya untuk memberi tempat pada pasangan miskin itu. Entah karena alasan diskriminasi bagi orang miskin, atau karena memang penginapan sudah penuh, kandang domba kotor akhirnya terpilih oleh-Nya sebagai tempat kelahiran yang maha penting. Dari kandang yang kotor dan bau itulah lahir sebuah ajaran keselamatan yang disuarakan melalui Isa Al Masih yang kelak turut mempengaruhi kehidupan spritual berjuta-juta umat di dunia.

Sekarang pisang-pisang itu telah lumat sempurna. Saya lalu mengentalkan lumatan pisang itu dengan sedikit yoghurt. Keasaman yoghurt memang bisa menetralisir manisnya rasa pisang. Sehingga hasil cake ini nantinya bisa menghasilkan rasa yang tidak terlalu dominan rasa pisangnya. Cukup tersamar saja rasanya, agar tidak bikin “eneg”.
Sambil mendaur-ulang buah yang “nyaris terbuang” itu menjadi santapan enak, suasana natal yang bergema di mana-mana membuat pikiran saya tak bisa menolak untuk menangkap simbol-simbol natal tadi.
Simbol-simbol seperti Maria, Yusuf, gembala domba adalah orang-orang terpinggirkan. Tapi mereka adalah “orang-orang pilihan”. Orang-orang kecil terberkati yang dipilih oleh-Nya untuk menjalankan sebuah misi maha besar. Mereka tidak pernah memilih dirinya sendiri untuk menjadi penting dan menonjol di dalam masyarakat.
Sekarang adonan banana cake itu telah siap untuk dimasukkan ke oven. Sambil menunggu matangnya cake, saya mengamati hiasan Natal yang sudah terpajang di setiap sudut rumah.

Saya mengecek beberapa hiasan natal di dos yang masih tersisa. Di dalam dos itu ada miniatur kisah kelahiran Yesus. Dengan beberapa patung kecil. Patung Maryam, Yusuf, Yesus kecil, para gembala, beberapa ekor domba dan tiga orang Majus. Saya mengepak kembali miniatur itu, menyimpannya kembali ke dalam lemari. Dekorasi yang sudah terpajang rasanya sudah cukup. Dengan beberapa alasan, saya enggan memajang miniatur kisah kelahiran itu sebagai “sekedar” dekorasi belaka.
Tanpa menggunakan simbol-simbol kisah kelahiran tadi, toh itu tidak akan mengurangi makna natal.
Beberapa hari lagi akan datang tahun baru. Dengan mensyukuri semua yang telah saya lalui, saya bergairah menghadapi hari-hari baru. Sambil merenda harapan-harapan baru. Mudah-mudahan tidak lupa untuk tetap “eling”. Ide tentang menjadi orang-orang pilihan-Nya seperti yang nampak dalam figur-figur sederhana di sekeliling kisah natal, membersitkan sebuah pemahaman tersendiri. Pemahaman untuk tidak mudah menyepelekan sesuatu yang kita anggap remeh menurut ukuran kaca mata kita sendiri. Sesuatu yang kita pandang enteng dan sepele-kan mungkin malah lebih bermakna daripada diri kita sendiri.
Ting! Oven itu sudah berbunyi. Tandanya banana cake itu sudah matang. Aroma cake memenuhi ruangan. Aroma campuran antara wangi kayu manis, vanila dan rempah lainnya. Harumnya banana cake yang masih hangat mengundang anak dan si Mas untuk ikut mencicipinya. "Hmmm lekker", kata mereka.

Pisang yang nyaris membusuk dan nyaris menjadi sampah itu toh bisa juga “dibudidayakan”. Maryam, Yusuf dan si gembala domba yang tidak punya fungsi terhormat di dalam masyarakat itu, akhirnya tinggal abadi di dalam hati jutaan umat.
Pisang dan orang kok disamakan sih? Yaaah, dalam kenyataannya memang manusia sering begitu sih. Manusia sering memperlakukan sesamanya bak pisang busuk yang dikeranjangsampahkan. Mengecilkan makna dan peran orang lain. Dan melihat diri sendiri lebih berarti dari yang lain. Selama hidup kita belum selesai, segala kemungkinan bisa terjadi. Yang sering kita campakkan dan remehkan, bukan tidak mungkin di kemudian hari termuliakan menjadi salah satu orang pilihan-Nya.
Idiom-idiom “pembudidayaan” sesuatu yang nyaris terbuang dan figur-figur tak berarti di balik kisah Natal, membuat saya teringat sesuatu. Yaitu sebuah kalimat hukum kehidupan, “Barang siapa yang meninggikan dirinya, maka ia akan direndahkan. Dan barang siapa yang merendahkan dirinya maka ia akan ditinggikan”.
Selamat Natal dan Tahun Baru. Semoga kita semua selalu diberkati oleh-Nya. Amin.
Walentina Waluyanti
Nederland, 21 Desember 2009
Foto: Walentina Waluyanti
Catatan penulis: Rasanya tulisan ini kurang lengkap jika tidak disertai resep “Banana Cake” yang disebut-sebut di dalam tulisan di atas. Beberapa foto juga menyertai resep ini.
RESEP BANANA CAKE ALA WALENTINA
Bahan:
- tepung terigu 2 ½ cup (1 cup tepung=110 gram, jadi kalo 2 ½ cup tepung itu kira-kira berapa gram yaaa, hitung sendiri aja...hehehehe)
- gula pasir 1 ½ cup (100 – 150 gram), tergantung selera rasa manis
- telur 2 butir (kalau mau cake lebih empuk, boleh gunakan kuningnya saja, tapi boleh juga gunakan seluruh telur/kuning dan putih telur)
- pisang ambon atau pisang cavendish 4 buah (lebih baik pisang yang sudah sangat lunak dan kulit pisangnya agak kehitam-hitaman)
- butter 100 gram (lebih bagus lagi kalau pakai roomboter)
- backing powder 2 sendok teh
- backing soda 1½ sendok teh
- bubuk vanila ½ sendok teh
- garam ½ sendok teh
- coklat bubuk/boleh pakai susu bubuk coklat 4-5 sendok makan
- yoghurt 4-5 sendok makan
- air jeruk 1 sendok makan
- bumbu spekuk (optional)
Peralatan:
- Cetakan cake yang bolong di tengahnya, agar adonan cake pisang yang “creamy” bisa matang merata.
- Lumuri permukaan cetakan dengan mentega/butter. Setelah itu baluri lagi dengan tepung secara merata, agar cake yang telah matang nantinya mudah lepas dari cetakan.
Cara membuat:
- Haluskan pisang, lalu bubuhkan perasan air jeruk. Lalu campur dengan yoghurt, aduk rata, sampai lumatan pisang tercampur rata (pastikan campuran pisang+yoghurt jangan terlalu encer). Karena rasa manis pisang sendiri sudah cukup, saya tidak membubuhi esens pemanis rasa pisang.
- Campur terigu, backing powder, backing soda, garam. Aduk merata.
- Di wadah terpisah, campur kuning telur, gula dan bubuk vanila. Campur/di-mixer hingga licin dan tercampur rata.
- Masukkan campuran terigu, backing powder, backing soda dan garam ke adonan telur, gula dan vanila yang sudah di-mix tadi. Campurkan juga dengan campuran lumatan pisang dan yoghurt. Untuk mencampur semua bahan ini saya gunakan food processor, tapi bisa juga gunakan mixer. Pastikan semuanya tercampur rata dan halus
- Setelah semuanya tercampur, sebetulnya semua bahan yang sudah di-mixer ini bisa langsung di masukkan ke cetakan cake, dan langsung dipanggang di oven. Tapi kalau anda ingin variasi rasa banana cake, boleh juga mencampur sedikit dengan rasa coklat.

Cara membuat adonan coklat, ambil kira-kira 7 sendok makan campuran adonan yang sudah jadi tadi. Tempatkan di mangkok kecil. Bubuhkan coklat bubuk, hingga warna adonan di mangkok menjadi coklat seluruhnya. Jika suka anda bisa membubuhi bumbu spekuk atau boleh juga bubuk kayu manis. Tapi tanpa tambahan itu, rasa cake juga sudah cukup enak.
- Setelah itu siapkan cetakan. Taruh adonan putih ke dalam cetakan. Sedikit demi sedikit. Selang-seling masukkan juga adonan coklat. Lalu masukkan lagi adonan putih. Masukkan lagi adonan coklat. Maksudnya agar memperoleh efek motif marmer pada cake. Boleh juga pakai cara lain. Yaitu masukkan seluruh adonan putih. Lalu tuang adonan coklat di atasnya. Setelah itu dengan sendok panjang, tekan adonan coklat ke dalam cake. Kira-kira sampai memperoleh efek dua warna, warna coklat dan putih dalam adonan itu. (Lihat foto di bawah ini).

Panaskan oven 180º C. Jangan masukkan adonan ke oven jika oven belum panas.
-
Jika oven sudah panas, masukkan cake dan panggang selama 50 menit.
-
Usahakan sebelum 50 menit jangan membuka oven, bisa membuat cake jadi bantet.
-
Setelah 50 menit, keluarkan cake dari oven. Cek dengan tusukan sate/tusuk cake dengan tusukan sate. Apakah adonan di dalam cake sudah matang/kering atau masih basah. Kalau tidak ada adonan basah yang melekat pada tusukan sate, itu artinya anda sukses membuat cake alias cake-nya tidak bantet.
-
Setelah cake matang, dinginkan kira-kira 10-15 menit sebelum dipotong dan disantap. Juga sekaligus proses pendinginan itu membuat tekstur cake jadi lebih padat. Sehingga hasilnya lebih rapi ketika diiris. Dinginkan cake dengan posisi cetakan cake dibalik, agar setelah dingin cake-nya mudah lepas dari cetakan. Letakkan/ganjal sesuatu di bawah cetakan cake, misalnya botol. Pastikan agar tetap ada sirkulasi udara masuk ke dalam cetakan cake.
- Untuk hasil yang sempurna, sebelum disantap sebaiknya cake sudah betul-betul dingin.

Begitulah, bahan untuk membuat cake ini sederhana saja. Walaupun saya lupa membubuhi taburan kacang almond, tapi rasanya tidak mengecewakan. Kalau anda punya sisa pisang yang tak bisa lagi dimakan, namun sayang dibuang, tak ada salahnya mendaur ulang menjadi sajian layak santap.
Selamat mencoba!
Resep dan foto: Walentina Waluyanti
