|
| [Details] |
| Report Time | 04:55 |
| Condition | --- |
| Wind Chill | 10 °C |
| Dew Point | 12 °C |
| Wind Direction | 340NNW |
| Variable Wind | ---/--- |
| Wind Speed | 2.1 m/s |
| Wind Gust | --- |
| Visibility | 1.8 km |
| Pressure | 1003 hPa |
| Humidity | 100.0 % |
| Humidity Index | 14.2 °C |
| Heat Index | --- |
| Precipitation | --- |
| Snow | --- |

Tulisan Walentina ini sudah dimuat di Kolom Kita Detik.com
Pepes Tuna Walangkekek
Walentina “Walangkekek” Waluyanti – Holland
Bulan November di musim gugur ini, cuaca di Belanda mulai sedikit dingin. Mendung, hujan, angin silih berganti mewarnai pergantian hari. Jadi kalau kebetulan hari sedang cerah, wah jadi semangat jalan-jalan ke pasar yang tidak begitu jauh dari rumah.
Selalu menyenangkan melihat-lihat pasar. Ketika melihat tempat penjualan ikan, ah ya......itu ada ikan tuna. Atau di Belanda di sebut “tonijn”. Sudah berapa hari ini lagi “ngidam”, ingin banget menyantap pepes ikan. Kebetulan lagi punya waktu luang untuk repot di dapur.
Di toko-toko Indonesia yang banyak bertebaran di Belanda, memang banyak dijual pepes ikan yang sudah matang. Pepes ikan yang siap santap. Kalau sedang tidak mau repot, saya juga sering membeli pepes ikan yang sudah matang. Biasa dijual di dalam kemasan plastik tebal. Tapi juga ada yang dijual di kertas aluminium. Rasanya tidak terlalu mengecewakan.
Tapi seenak-enaknya yang dijual di toko-toko, buat Walangkekek sih lebih enak pepes ikan buatan sendiri. Pakai daun pisang, sampai daunnya sedikit gosong. Aroma daun pisang yang terbakar meresap ke dalam ikan. Jadi rasanya lebih nyamleng. Nah, efek daun pisang terbakar, itu yang tidak bisa didapatkan kalau membeli pepes ikan dari toko. Selain itu pepes ikan buatan sendiri, bumbunya lebih generous daripada di toko.
Begitulah. Kami lalu membeli ikan tuna 2 kilo. Penjualnya berbaik hati bersedia membersihkan ikan segar yang belum dibersihkan itu. Dengan cekatan disisihkannya bagian yang tak diperlukan.
Berikutnya, begitu sampai di rumah, dengan penuh semangat, misi “bukan pepesan kosong” ini dimulai.
PEPES TUNA ALA WALANGKEKEK
(Untuk 4 orang)
Bahan:
- 2 ekor ikan tuna
- 7 siung bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 2 lombok besar
- cabe rawit (jumlahnya sesuai selera)
- 2 tomat besar, belah
- kunyit 2 cm
- laos 2cm
- 5 butir kemiri
- 2 batang daun bawang, iris-iris
- 1 batang sereh
- daun salam
- daun jeruk
- daun kemangi
- air asam jawa
- jeruk nipis
- garam
- 2 sdt gula jawa sekedar penyedap (optional)
- 2 sdm minyak goreng
- daun pisang untuk membungkus
- lidi untuk menyemat

Cara Membuat
- Lumuri ikan yang sudah bersih dengan garam dan perasan air jeruk nipis. Diamkan 30 menit.
- Haluskan bawang putih, bawang merah, lombok besar, cabe rawit, kunyit, laos, kemiri, sereh.
- Campur bumbu yang sudah dihaluskan itu dengan minyak goreng. Aduk merata.
- Bubuhi pula bumbu yang sudah dihaluskan itu dengan garam dan jika suka, gula jawa.
- Ikan yang sudah didiamkan tadi, cuci bersih.
- Taruh ikan di atas daun pisang.
- Lumuri ikan dengan air asam jawa.
- Sesudah itu, lumuri lagi seluruh ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan.
- Di atas ikan, letakkan merata daun salam, daun jeruk, kemangi, tomat.
- Taburkan juga irisan daun bawang di pepesan ikan.

Bungkus rapat, sematkan dengan lidi.


Oh ya, kebetulan tadi ke toko Indonesia dan ada sayur pare yang segar. Horeeeee.....wah sudah lama nih nggak makan sayur yang pahit ini. Jadilah, ikan pepes tuna disantap dengan tumis pare dan sambel terasi plus emping.
Biarpun tuna katanya artinya tidak, tapi rasanya sulit untuk mengatakan “NO” alias tidak alias tuna buat pepes tuna Walangkekek ini. Wah, kayak bahasa iklan kecap number one saja ya?
Hmmmmm.....kalau sudah makan pepes tuna ini, biar mertua lewat juga.....yaa ditegur juga dong. Masak mertua lewat tidak ditegur. Kalau mertua lewat tidak ditegur, nanti Walangkekek ini benar-benar bisa dituduh WTS alias Walangkekek Tuna Sopan.....
Maaf ya kalau Walangkekek sudah mengajak pembaca berpikir yang tuna-tuna.
Selamat mencoba!
Salam hangat dari Walangkekek,
Walentina “Walangkekek” Waluyanti
Nederland, 22 November 2009
