|
| [Details] |
| Report Time | 04:55 |
| Condition | --- |
| Wind Chill | 10 °C |
| Dew Point | 12 °C |
| Wind Direction | 340NNW |
| Variable Wind | ---/--- |
| Wind Speed | 2.1 m/s |
| Wind Gust | --- |
| Visibility | 1.8 km |
| Pressure | 1003 hPa |
| Humidity | 100.0 % |
| Humidity Index | 14.2 °C |
| Heat Index | --- |
| Precipitation | --- |
| Snow | --- |

Mbak Walangkekek dan Mbak Wan
Walentina "Walangkekek" Waluyanti – Belanda
Ini cerita nggak penting banget. Pesan moralnya nggak jelas. Yang ada cuma pesan monyong. Kalau bagi anda time is money, lebih baik jangan teruskan baca tulisan ini. Masih lebih banyak hal bermanfaat lain yang bisa dilakukan. Tapi kalau anda masih ngotot baca, apalah daya Walangkekek untuk melarang anda. Oke, Walangkekek akan meneruskan bercerita.
Ini cerita tentang 2 mBak-mBak. Ceritanya dimulai dengan kalimat yang basi banget, yaitu pada suatu hari.....
Pada suatu Harry yang Dirty, Walangkekek berkunjung ke rumah Oom di Surabaya. Lalu ramai-ramai kami ke rumah makan. Walangkekek ditanya, mau makan apa? Karena melihat di rumah makan itu ada terhidang bakwan menggiurkan, Walangkekek spontan menyebut bakwan. Soalnya Walangkekek memang penggemar bakwan. Setelah pelayan datang membawa pesanan, ternyata yang mBak Walangkekek terima adalah "mBakso". Bukan "mBakwan".
"Mas, saya tadi kan pesan bakwan, bukan bakso?", protes Walangkekek tapi nggak sampai demo. Waktu itu memang belum tahu bahwa di Surabaya bakwan artinya bakso. Sedangkan gorengan bakwan yang umum dikenal, di Surabaya disebut ote-ote. Atau di Bandung disebut bala-bala.
Dan soal salah pesan tadi, ya sudah. mBakso yang sudah terlanjur datang, dimakan saja. Tapi tetap juga ngotot sekali lagi pesan mbakwan udang alias ote-ote. Dasar maruk...dengan tangan kanan, Walangkekek menyendokkan bakso ke mulut (masak ke hidung). Dan tangan kirinya mengokang bakwan yang juga siap dilahap rakus.
Waaah.....setelah mencoba kombinasi kacau tadi, kok enak juga ya? Setelah itu, malah jadi punya kebiasaan baru. Setiap makan bakwan, bawaannya selalu ingin cari bakso. Atau kalau makan bakso, jadi ingin makan bakwan juga.
Sampai tinggal di Belanda pun, kadang tetap merindukan gorengan itu. Bedanya sekarang kalau mau makan bakwan enak, ya mesti bikin sendiri. Dan kebetulan juga Walangkekek memang senang masak.

Memang betul, di Belanda banyak juga bakwan dijual di toko Indonesia. Namun begitu, rasanya sudah tidak segar lagi. Bakwan dari toko harus dipanaskan dulu di microwave sebelum disantap. Jadi kelezatan khas bakwan sudah tak terasa lagi.
Walangkekek yakin, banyak pembaca yang lebih jago masak. Jadi ngapain juga Walangkekek mau sok bakwan eh sok tahu.....bagi resep bakwan di kolom ini? Huuuuh, bakwan sendiri kan....eh tahu sendiri kan? Jawaban Walangkekek selalu itu-itu saja, "soalnya kalau bagi euro, ntar dicurigain ama KPK lageeee".
Jadi mending Walangkekek bagi resep saja. Hitung-hitung ikut melestarikan salah satu resep moyangnya nenek moyang buat kolom ini. Ciaileeeeh.....
Bakwan itu ada beberapa macam. Ada bakwan sayur, bakwan jagung, bakwan udang dan lainnya. Kali ini Walangkekek ingin membagi resep bakwan udang. Inipun jika pembaca tidak keberatan. Soalnya buat pembaca yang sudah jago masak, bisa-bisa merasa digurui.....walaaaah bisa repooot.
Buat pemasak pemula, berikut ini trik-trik dan tips-tips diselipkan di cara pembuatan bakwan udang. Karena sekilas membuat bakwan ini kelihatannya gampang. Ah, cuma mencampur semua jadi satu, lalu goreng. Kelihatannya cuma begitu. Tapi sebetulnya bisa jadi ribet juga kalau belum tahu trik-nya.
Kelezatan masakan memang tidak saja ditentukan oleh bumbu-nya. Tapi juga perlu mengetahui trik-trik di baliknya.

BAKWAN UDANG ALA WALANGKEKEK
Bahan-bahan:
- Tepung terigu 200 gram
- Udang kupas agak besar 150 gram
- Telur 2 butir, ceplok lepas
- Tauge 100 gram
- Wortel 2 buah, iris bentuk korek api
- Bawang putih 3 siung, haluskan
- Bawang merah 4 siung, haluskan
- Kemiri 3 butir, haluskan
- Daun bawang 1 batang, iris-iris
- Daun seledri 2 batang, iris-iris
- Ketumbar halus 1 sendok teh
- Merica halus secukupnya
- Garam secukupnya
- Minyak goreng
- Air, ukurannya kira-kira cukup untuk mengentalkan adonan terigu/jangan terlalu encer.
Peralatan:
- Sendok penggoreng bulat dan cekung/seperti sendok sup. Dalam bahasa planetnya, katanya sih namanya centong...hehehehe.....
- Sendok makan biasa, untuk menyendok adonan dari loyang ke dalam sendok penggoreng
- Pan /wajan, tidak perlu wajan besar. Yang penting pastikan agar bakwan bisa terendam di dalam minyak yang banyak di dalam pan/wajan itu.
Cara membuat:
- Bawang merah, bawang putih, kemiri yang sudah dihaluskan, ketumbar, irisan daun bawang, irisan seledri, merica, garam dan telur kocok masukkan ke terigu. TIPS: Jangan dulu masukkan udang.
- Masukkan air sedikit demi sedikit, sambil diaduk-aduk. TIPS: Jangan memasukkan air sekaligus banyak ke terigu, agar adonan tepung tidak menggumpal. Campurkan adonan secara merata, aduk-aduk, sampai memperoleh kekentalan yang cukup untuk digoreng. Campurkan juga sayuran ke dalam adonan, aduk rata.
- Ada yang pakai cara mencampur udang sekaligus ke seluruh adonan. TIPS-nya: lebih gampang jika udangnya ditaruh di adonan di sendok penggoreng/bukan di loyang. Jadi udang tidak dicampur sekaligus di loyang berisi adonan. Kalau anda lebih suka cara terakhir ini, maka letakkan udang di wadah terpisah. Walangkekek lebih suka cara yang terakhir (kebetulan saja di foto di bawah, udangnya di letakkan di adonan di loyang sekedar untuk mempercantik foto).
- Taruh minyak di penggorengan. Gunakan minyak yang banyak, pastikan kira-kira gorengannya nanti bisa terendam di dalam minyak. TIPS untuk memperoleh bentuk khas bakwan: Pada saat minyak belum panas, letakkan sendok penggoreng di dalam minyak. Pastikan cekungan sendok ikut terendam, sampai sendok penggoreng itu penuh berisi minyak. Karena cekungan bulat sendok berisi minyak itu fungsinya sebagai cetakan bakwan.
- Begitu minyak panas, ambil adonan dari loyang dengan menggunakan sendok makan (bukan sendok penggoreng). TIPS: Jangan sekali-sekali langsung mengambil adonan dengan menggunakan sendok penggoreng yang berminyak. Gunakan sendok lain untuk menyendok adonan.
- Taruh adonan dengan menggunakan sendok makan ke dalam sendok penggoreng di wajan. TIPS: Pastikan pula cekungan sendok itu penuh berisi minyak. Perhatikan, adonan dari sendok makan dicemplungkan ke cekungan sendok berisi minyak, bukan langsung ke wajan. Kalau mencempungkan langsung ke wajan, maka hasil gorengan tidak bisa bulat seperti bakwan.
- Lalu setelah adonan di sendok penggoreng penuh, rendamkan sendok penggoreng berisi adonan itu ke dalam minyak panas di wajan. Sementara itu, jangan lupa taruh udang di atas adonan di sendok penggoreng itu. Contohnya, seperti foto di bawah ini.
Rendam adonan di sendok penggoreng ke dalam minyak sampai matang.
Begitu seterusnya, ambil adonan berikutnya dengan sendok makan, tuang ke dalam sendok penggoreng, taruh udang di atasnya. Lalu rendam di minyak sampai matang. Angkat.
TIPS untuk menghasilkan bakwan yang lebih garing: bisa mencampur tepung terigu dengan sedikit tepung beras. Perbandingan antara tepung terigu dan tepung beras adalah 3 : 1. Kalau tidak ada tepung beras, jangan kuatir. Hanya menggunakan tepung terigu pun, rasanya sudah nendang juga kok.
Dengan teknik menggoreng yang baik plus ketepatan takaran semua bahan, walau hanya pakai tepung terigu, bisa juga kok menghasilkan tekstur bakwan yang pas garingnya. Walangkekek sih lebih suka menggorengnya garing sekedarnya, tidak sampai kering sekali, agar Mas Iwan eh...mBak-wan bisa terasa padat dan empuk di gigitan.....wadauw.....!!!
Yang penting kalau lagi menggoreng bakwan, harus rela untuk sementara tidak melirik yang lain-lain dulu. Harus sabar menunggui.
Gorengan bakwan udang ini biasa Walangkekek hidangkan juga kalau kedatangan tamu orang-orang Belanda. Sekaligus mengenalkan salah satu kuliner tradisional Indonesia. Sampai sekarang sih belum ada di antara mereka yang menolak kalau Walangkekek menghidangkan bakwan udang ini. Mereka sangat menyukai hidangan ini, dan juga menyantapnya dengan saus chili botolan. Kalau Walangkekek sih lebih suka melahapnya dengan cabe rawit. Kebetulan di toko-toko Indonesia/Asia di Belanda, sekarang ini sudah banyak dijual bukan cuma cabe rawitnya, tapi juga pohon cabe rawit.
Wah, Walangkekek jadi maruk banget deh kalau sudah ada cabe. Jadinya mungkin bukan makan bakwan pakai cabe, tapi makan cabe pakai bakwan. Dan berhubung lagi makan bakwan, seperti biasa, kembali ke kebiasaan nostalgia, yaitu.....cari mBakso......


Begitulah kisah ndak penting tentang 2 mBak-mBak, mBak Walangkekek dan mBakwan plus mBakso (lho kok jadi 3 mBak-mBak sih?).
Nederland, 3 Desember 2009
