|
| [Details] |
| Report Time | 03:55 |
| Condition | --- |
| Wind Chill | 11 °C |
| Dew Point | 12 °C |
| Wind Direction | 330NNW |
| Variable Wind | ---/--- |
| Wind Speed | 2.1 m/s |
| Wind Gust | --- |
| Visibility | 3.0 km |
| Pressure | 1003 hPa |
| Humidity | 93.6 % |
| Humidity Index | 15.2 °C |
| Heat Index | --- |
| Precipitation | --- |
| Snow | --- |
Dimuat di Kolom Kita Detik.com
Oh, Belanda! Rasain!
*) Sebuah satir, ironi dan sindiran atas perilaku yang selalu mencari kambing hitam atas nasib Indonesia, tanpa mau melihat ke depan
Copyright @ Penulis: Walentina Waluyanti – Nederland

Catatan penulis: Tulisan satir, ironi dan sindiran ini adalah rangkaian dari tulisan "Satir Walentina".
Karena kebetulan tinggal di Belanda, saya punya kambing hitam yang bisa disalahkan. Dan kambing hitam itu setiap saat ada di depan saya. Bersliweran di mana-mana, siap untuk saya salahkan.
Coba saja bule-bule Belanda itu ngomong salah sedikit tentang Indonesia. Saya langsung menyambar, “Eh, ngaca dong. Sudah jadi penjajah selama berabad-abad, masih juga banyak bacot”. ==Baca artikel saya berjudul “Ngana Orang Apa?” .
Saya juga tidak suka kalau dengar orang Belanda berani ngomong tentang korupsi di Indonesia. Biarpun itu ada benarnya, saya jadi ngeyel dan membongkar literatur kuno. “Baca ini!”, kata saya tersinggung. Saya langsung bisa nyerocos sok tahu, tentang betapa korupnya VOC waktu tinggal di Hindia Belanda (Indonesia) dulu. Gara-gara itu sampai VOC pailit dan akhirnya ambruk.

Jadi korupsi di Indonesia itu salah siapa? Kalian yang ngajarin sih! Memang kedengarannya saya mau menang sendiri, dan “asbun”. Tapi peduli amat. Biarin, ah. Bangsa saya sudah jadi korban. Jadi kalian Belanda, sekarang tutup mulut saja! Kalau mereka tidak mau terima, saya hubungkan saja semuanya sebisa saya, sampai semuanya terhubung dengan kesalahan Belanda.
Saya tidak suka ada orang Belanda bicara sedikit minus tentang Indonesia. Suatu ketika ada tokoh Indonesia yang poligaminya dibicarakan di semua media. Ada orang Belanda yang bertanya pada saya tentang ini, saya tidak suka. Pangeran Bernhard, suami ratu Juliana itu pacarnya berapa? Saya jadi tak mau kalah. Rasanya, Belanda itu harus setiap saat diingatkan kejahatan masa lalu mereka ini. Saya merasa jahat, karena puas melihat orang Belanda itu jadi kelihatan seperti tikus celurut tak berdaya, kalau saya singgung betapa tak berperikemanusiaan penjajahan mereka.
Ya, saya merasa boleh “mentang-mentang tidak salah” karena nenek moyang saya sudah dibikin menderita oleh nenek moyang mereka selama ratusan tahun. Urusan antara nenek moyang dan nenek moyang, kini menjadi urusan abadi antara cucu para nenek moyang. Sampai kapan berakhir dendam kesumat dan perseteruan abadi ini?
Saya tidak mau tahu bahwa kejahatan itu dilakukan oleh generasi mereka dulu. Yang namanya penjajah, tetap penjajah. Tak peduli generasi dulu atau generasi sekarang. Penjajah ya penjajah...titik! Memang enak jadi orang Indonesia. Soalnya Indonesia itu kan budayanya adiluhung. Jadi tidak mungkin Indonesia itu salah. Saya tidak peduli dibilang buta hati. Karena memang penjajahan Belanda sudah membuat segala-galanya menjadi tak beres. Hati saya jadi buta, juga karena penjajahan Belanda.
Saya juga senang jadi orang Indonesia. Karena Indonesia memiliki tokoh yang saya puja, yaitu Bung Karno, orang yang paling dibenci pemerintah kolonial Belanda. Bahkan bangsanya sendiri tak sedikit yang membenci dan mengingkari jasa tokoh pujaan saya ini. Tokoh yang mempersatukan Indonesia, yang tadinya terpisah-pisah suku, agama, ras, dan golongan.

Saya senang jadi orang Indonesia, karena saya bisa membangga-banggakan tokoh sekaliber Bung Karno ke bangsa Belanda. Saya senang kalau mereka memuji nasioalisme dan kejeniusan pemimpin kita ini. Mana pernah Belanda memiliki tokoh sehebat itu? Karena itu beberapa kali saya suka menulis artikel tentang Bung Karno, karena simpati pada perjuangannya. Semangatnya adalah personifikasi setiap orang yang cinta pada bangsanya. Waktu itu karena terus menulis Bung Karno, sampai ada yang komentar, “Bung Karno melulu, ah!”. Saya senang jadi orang Indonesia, karena pernah punya presiden seniman, yang menghargai karya seni tanpa kemunafikan.
Saya bangga jadi orang Indonesia yang hampir separuh penduduknya dialiri darah seni. Di Belanda saya bebas menunjukkan lukisan saya, termasuk lukisan wanita telanjang karya saya pada orang Belanda, tanpa takut dicurigai mau merusak akhlak bangsa Belanda. Tanpa takut ancaman UU Anti Pornografi.
Sambil memperlihatkan lukisan karya saya di bawah ini, ingin saya katakan pada penjajah itu, “Hey! Gara-gara penjajahan Belanda banyak wanita Indonesia menderita dan terpaksa terperangkap di dunia perbudakan!”. ==Baca tulisan saya, “Babu Bugil di Paris, Anna the Javanese".

Painting “Nude”, karya Walentina Waluyanti-Copyright by Walentina Waluyanti (DON'T PRINT WITHOUT PERMISSION)
Pokoknya semua ketidakberesan apapun di Indonesia, saya lemparkan sebagai kesalahan penjajahan Belanda. Mana mungkin Indonesia bisa salah?
Enak jadi orang Indonesia. Apapun yang terjadi, saya selalu mampu menemukan sumber kesalahan atas segala yang terjadi di Indonesia. Siapa lagi biang kerok semua ini kalau bukan penjajah Belanda? Generasi muda Belanda sekarang tidak boleh berlagak tak tahu apa-apa! Mereka harus menanggung dosa turunan nenek moyang mereka. Walau generasi muda Belanda sekarang ini, bahkan tak bisa menunjukkan letak Indonesia di peta....saya harus menarik kerah baju mereka, meminta pertanggungjawaban mereka atas keadaan Indonesia sekarang ini.
Saya senang jadi orang Indonesia. Kalau saya tidak mau kritis melihat nasib bangsa saya, itu bukan salah saya. Segala kesalahan, segala kerusakan, kerugian yang terjadi di Indonesia, bukanlah gara-gara kesalahan bangsa Indonesia. Tapi itu semua karena kesalahan penjajah Belanda.
Kalaupun ada yang tak enak, adalah jadi penulis Indonesia yang tinggal di Belanda. Soalnya gara-gara melihat negeri tercinta dari luar nusantara, membuat nasionalisme jadi makin kuat. Itu yang jadi masalah. Masalahnya karena jari saya tak pernah bisa berhenti menulis tentang kepedulian pada bangsa saya. Kalaupun ada yang tak enak, pada saat saya menuliskan kepedulian itu, berisiko membuat saya dituduh sebagai pengkhianat dan antek-antek penjajah.
Saya sudah puas setiap saat menyalah-nyalahkan kambing hitam yang hidup di sekeliling saya. Dan hanya melalui menulis sebagai panggilan jiwa, bisa saya suarakan ekpresi saya sebagai anak negeri.

Hanya di depan sesama orang Indonesia, saya berani berkata sejujurnya tentang apa yang saya pikirkan tentang keadaan bangsaku. Saya terlalu tinggi hati untuk mengakui kesalahan bangsa saya, di depan eks penjajah. Satu-satunya yang bikin saya semangat kalau bicara yang ada hubungannya dengan Belanda, cuma Irfan Bachim. Yang saya sesalkan, kenapa cowok ganteng ini ada darah Belandanya? Ah, apakah nasionalisme saya sudah berubah jadi chauvinist?
Ah, sudahlah...nanti saya malah dituduh sok nasionalis. Mungkin lebih aman bilang, enak jadi orang Indonesia. Karena Indonesia memang tidak pernah menjajah Belanda. Jadi Indonesia tidak akan pernah bisa salah. Oh, Belanda, rasain! Siapa suruh jadi penjajah!
Baca lanjutan tulisan ini di tulisan "Satir Walentina".
Walentina Waluyanti
| < Satir Walentina (Lanjutan “Oh, Belanda! Rasain!") | LABIOSCHISIS > |
|---|
